Posted 17 Februari 2026 by Bintang
Hipertensi tetap menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular global dan berkontribusi besar terhadap kejadian stroke, infark miokard, gagal jantung, serta penyakit ginjal kronik (World Health Organization [WHO], 2023). Namun, pengukuran tekanan darah tunggal di ruang praktik sering kali tidak mencerminkan profil tekanan darah pasien secara menyeluruh.
Di sinilah Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) berperan penting. Sistem ABPM seperti BPLab Compact 2 memungkinkan pemantauan tekanan darah selama 24 jam secara otomatis, termasuk saat aktivitas dan tidur, sehingga memberikan gambaran hemodinamik yang lebih akurat dan klinis relevan.
Pengukuran tekanan darah di klinik rentan terhadap bias, termasuk:
Studi menunjukkan bahwa tekanan darah ambulatori memiliki korelasi lebih kuat dengan risiko kejadian kardiovaskular dibandingkan tekanan darah klinik (Banegas et al., 2018; Williams et al., 2018).
European Society of Cardiology (ESC) dan European Society of Hypertension (ESH) secara tegas merekomendasikan ABPM untuk:
Dengan demikian, ABPM bukan lagi alat tambahan, tetapi bagian penting dari manajemen hipertensi modern.
ABPM adalah metode pemantauan tekanan darah otomatis selama 24 jam menggunakan perangkat portabel yang dikenakan pasien. Alat akan:
Berbeda dengan home blood pressure monitoring (HBPM), ABPM menyediakan data lengkap termasuk variabilitas dan tekanan darah saat tidur.
Berdasarkan materi visual yang ditampilkan, sistem ini merupakan perangkat portable dengan layar digital, cuff latex-free dalam berbagai ukuran, serta integrasi perangkat lunak analisis.

Sistem ini didukung teknologi Vasotens®, yang memungkinkan analisis tambahan seperti:
Tekanan aorta sentral memiliki relevansi prognostik yang lebih kuat dibanding tekanan brachial konvensional (Roman et al., 2007).
Fitur adaptive inflation menyesuaikan tekanan cuff untuk:
Validasi akurasi kelas A/A (BHS-93) menunjukkan perangkat telah memenuhi standar British Hypertension Society untuk akurasi klinis.
Disebutkan bahwa sistem tervalidasi pada:
Hal ini penting karena aritmia sering menyebabkan error pada alat oscillometric konvensional.
ABPM memberikan berbagai parameter penting:
Pola non-dipper atau reverse dipper dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan gagal jantung (O’Brien et al., 2013).
| Metode | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Klinik | Praktis, cepat | Bias white coat |
| HBPM | Monitoring rumah | Tidak merekam malam |
| ABPM | 24 jam, termasuk tidur | Lebih mahal, butuh analisis |
Menurut meta-analisis besar, tekanan darah ambulatori adalah prediktor mortalitas yang lebih kuat dibanding tekanan darah klinik (Banegas et al., 2018).
Perangkat ringan dan portable memudahkan:

Tersedia 6 ukuran cuff latex-free, yang penting untuk menghindari overestimation/underestimation akibat ukuran cuff tidak sesuai (Williams et al., 2018).
Penambahan parameter kekakuan arteri memberi nilai tambah dalam stratifikasi risiko kardiovaskular.
ABPM sangat relevan untuk:
Dalam praktik berbasis evidence, ABPM membantu mencegah overtreatment pada white coat hypertension dan undertreatment pada masked hypertension.
Pemantauan tekanan darah 24 jam menggunakan ABPM merupakan pendekatan berbasis evidence yang memberikan gambaran tekanan darah lebih representatif dibanding pengukuran klinik tunggal.
Perangkat seperti BPLab Compact 2 menghadirkan:
Dengan dukungan guideline internasional dan bukti prognostik yang kuat, ABPM menjadi komponen penting dalam manajemen hipertensi modern. Implementasi sistem ini di fasilitas kesehatan berpotensi meningkatkan akurasi diagnosis, efektivitas terapi, dan stratifikasi risiko kardiovaskular secara lebih presisi.
Banegas, J. R., et al. (2018). Relationship between clinic and ambulatory blood-pressure measurements and mortality. New England Journal of Medicine, 378(16), 1509–1520.
O’Brien, E., et al. (2013). Ambulatory blood pressure monitoring in the management of hypertension. Hypertension, 62(6), 988–994.
Roman, M. J., et al. (2007). Central pressure more strongly relates to vascular disease and outcome. Circulation, 115(12), 1483–1490.
Williams, B., et al. (2018). 2018 ESC/ESH Guidelines for the management of arterial hypertension. European Heart Journal, 39(33), 3021–3104.
World Health Organization. (2023). Hypertension fact sheet. WHO.